PENARAYA – Tiga migran dilaporkan tewas tenggelam setelah perahu kayu yang mereka tumpangi terbalik di perairan dekat pulau paling selatan Yunani, Gavdos, pada Selasa (waktu setempat). Penjaga pantai masih berupaya mencari sejumlah orang yang dilaporkan hilang dalam insiden tragis tersebut.
Berdasarkan keterangan dari penjaga pantai, seperti dikutip tvrinews.com, insiden perahu terbalik ini terjadi ketika para penumpang bergerak cepat ke salah satu sisi perahu saat sebuah kapal dari badan perbatasan Uni Eropa, Frontex, mendekati perahu migran tersebut.
“Pergerakan mereka ke sisi kiri mengakibatkan masuknya air dan perahu terbalik. Seketika itu juga, kru kapal Frontex meluncurkan bantal penyelamat… dan sekoci,” demikian pernyataan resmi dari penjaga pantai.
Hingga saat ini, 55 orang telah berhasil diselamatkan. Salah satu korban selamat dilaporkan mengalami cedera dan telah dirawat di rumah sakit yang berada di pulau terdekat, Kreta.
Seorang petugas penjaga pantai mengungkapkan, para penyintas mengatakan bahwa jumlah orang di dalam perahu tersebut lebih banyak saat terbalik sekitar 15 mil laut (28 km) dari Gavdos.
Saat ini, empat kapal dan satu pesawat Frontex dikerahkan untuk melakukan pencarian korban yang mungkin masih hilang.
Yunani pernah menjadi garis depan krisis migrasi besar pada 2015-2016, ketika lebih dari satu juta orang dari Timur Tengah dan Afrika menyeberang ke Eropa. Meskipun jumlahnya menurun, pulau Kreta dan Gavdos, dua pulau Aegea yang paling dekat dengan pantai Afrika, telah mencatat peningkatan tajam dalam kedatangan perahu migran, terutama yang berasal dari Libya, selama setahun terakhir. Kecelakaan fatal di rute ini masih kerap terjadi.
Menanggapi tekanan migrasi, Komisi Eropa pada Selasa menyatakan bahwa Yunani, Siprus, Spanyol, dan Italia akan memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan di bawah mekanisme baru Uni Eropa. Bantuan ini akan aktif ketika pakta migrasi dan suaka blok tersebut mulai berlaku pada pertengahan tahun depan.
Leave a comment