PENAYARA – Hari ini, 31 Desember adalah hari terakhir di tahun 2025 penanggalan Masehi. Dan, menjadi hari terakhir di tahun penuh lara. Pada 2025, Indonesia seperti berjalan di atas garis tipis. Di satu sisi rutinitas tetap bergerak, sekolah dibuka, pasar ramai, dan perkantoran bekerja.
Namun, di sisi lain, berita bencana datang nyaris tanpa jeda. Banjir merendam, longsor menutup jalan, angin kencang menumbangkan atap, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengaburkan langit, hingga erupsi dan gempa yang menyisakan trauma. Masih ditambah lagi beragai drama yang haduh di panggung negeri ini.
Dari sisi bencana, bukan semata karena banyaknya kejadian, tetapi karena skala dampak dan korban yang meledak pada bulan-bulan kunci, terutama saat bencana hidrometeorologi menyapu berbagai wilayah.
Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bancana (BNPB) tercatat sekitar 3.116 kejadian sepanjang 2025 menurut rangkuman terbaru statistik BNPB. Secara keseluruhan, sepanjang tahun 2025 Indonesia mengalami sekitar 2.900–3.100 kejadian bencana, didominasi oleh bencana hidrometeorologi seperti banjir, cuaca ekstrem, dan longsor.
Di beberapa periode khusus, misalnya hingga Juli 2025, data BNPB juga menunjukkan jumlah kejadian bencana sudah mencapai 3.850 kejadian (laporan per 8 Juli 2025).
Angka bulanan BNPB menunjukkan variasi kejadian, misalnya 274 kejadian bencana di November 2025 saja, yang mencerminkan intensitas bencana yang sangat tinggi pada puncak musim hujan tersebut.
Lebih dari 98% bencana tersebut merupakan hidrometeorologi seperti ; banjir, cuaca ekstrem dan tanah longsor. Sedangkan sisanya adalah bencana lain seperti karhutla, gempa dan lain-lain
BNPB melalui Geoportal Data Bencana mencatat, periode 1 Januari 2025–29 Desember 2025 menimbulkan 1.552 korban meninggal, 248 orang hilang, 7.751 luka-luka, serta 10.302.163 orang menderita dan mengungsi.
Angka-angka itu membuat banyak orang menyebut 2025 sebagai ‘tahun bencana’. Tahun ketika kerentanan lama bertemu cuaca ekstrem, tata ruang yang rapuh, dan kesiapsiagaan yang belum merata.
Mengapa 2025 terasa sebagai tahun bencana ?
Ada tiga alasan besar yang membuat 2025 terasa lebih kejam.
1) Bencana hidrometeorologi mendominasi
Dalam buletin BNPB (contoh bulan November 2025), 98,91% kejadian bencana adalah hidrometeorologi (banjir, cuaca ekstrem, longsor, karhutla, kekeringan), dan hanya sebagian kecil bencana geologi. Artinya: hujan, angin, dan air menjadi cerita utama.
2) Lonjakan korban pada puncak musim hujan
Pada penghujung November 2025, banjir dan longsor di Sumatra (Aceh, Sumut, Sumbar) menjadi tragedi besar nasional. Dalam satu fase bencana besar itu, pemerintah menyebut ada daerah yang “hilang” tersapu, dan biaya pemulihan diperkirakan sangat besar. Reuters melaporkan pemerintah memperkirakan pemulihan setidaknya US$ 3,11 miliar atau sekitar Rp50 sampai Rp52 triliun.
3) Faktor non-alam memperparah: tata ruang, lingkungan, dan eksposur
Pernyataan Presiden dan Kepala BNPB dalam laporan AP menekankan isu kerusakan lingkungan, pembalakan/kerusakan hutan, dan pendidikan kesadaran lingkungan sebagai pelajaran dari bencana.
Dalam bahasa sederhana, hujan deras memang pemicu, tetapi banyak luka terjadi karena ruang hidup tak siap menampung air dan menahan tanah.
Bencana apa saja sepanjang 2025, dan di mana saja?
Sepanjang 2025, pola bencana Indonesia relatif konsisten: banjir–cuaca ekstrem–longsor di musim hujan, lalu karhutla/kekeringan di musim kemarau di sebagian wilayah, diselingi gempa/erupsi.
- Banjir
Terjadi luas di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan wilayah lain. Pada November 2025 saja, banjir tercatat menjadi kejadian terbanyak 163 kejadian pada bulan itu.
Puncak paling mematikan 2025 adalah rangkaian banjir–longsor di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat yang diberitakan luas.
2. Tanah longsor
Longsor besar juga terjadi di Pulau Jawa. Dalam Buletin BNPB November 2025, longsor di Cilacap dan Banjarnegara disebut sebagai peristiwa dengan korban jiwa signifikan di luar Sumatra.
3. Cuaca ekstrem
Cuaca ekstrem merusak atap, fasilitas umum, dan memutus akses. BNPB mengulas kejadian harian, misalnya angin kencang di Kalimantan Selatan dan Jawa Barat pada akhir Desember.
BNPB
4. Kebakaran hutan dan lahan dan kekeringan
Pada September 2025, Buletin BNPB mencatat kejadian karhutla menjadi porsi besar dalam bulan tersebut.
Dampaknya bukan hanya “sap, tetapi gangguan sekolah, kesehatan pernapasan, dan ekonomi lokal karena transportasi, kebun, dan pekerjaan lapangan terganggu.
5. Bencana geologi
Bencana geologi tidak sebanyak hidrometeorologi, tetapi dampaknya bisa berat di lokasi tertentu. Buletin BNPB mencatat kejadian gempa/erupsi tetap terjadi sepanjang tahun.
Semua bencana itu dicatat menyebabkan korban meninggal: 1.552 orang, hilang: 248 orang dan luka-luka: 7.751 orang. Korban yang dicatat menderita dan mengungsi: 10.302.163 orang
(periode 1 Jan–29 Des 2025, BNPB Geoportal)

Kerusakan infrastruktur dan fasilitas umum
Data kerusakan paling rinci yang tersedia dalam dokumen resmi bulanan BNPB terlihat jelas pada November 2025—bulan ketika dampak melonjak.
BNPB mencatat pada November 2025 saja rumah rusak: 158.797 unit (ringan–berat), dengan banjir sebagai penyumbang terbesar. Fasilitas umum yang rusak, antara lain: 548 satuan pendidikan, 428 rumah ibadat, 202 fasilitas pelayanan kesehatan, 242 kantor dan 440 jembatan. Itu baru satu bulan, sehingga menjelaskan mengapa masyarakat merasa 2025 seperti tak memberi napas.
Untuk tragedi Sumatra di akhir 2025, pemberitaan dan pernyataan pemerintah juga menekankan desa-desa tersapu, akses jalan dan jembatan putus, serta kebutuhan besar untuk rekonstruksi.
Kerugian materiil
Untuk angka kerugian materiil nasional 2025 yang teragregasi satu angka, sumber publik yang rapi dan final sering menunggu verifikasi/rekap pasca-kejadian. Namun, untuk bencana terbesar 2025 di Sumatra saja pejabat pemerintah memperkirakan kebutuhan rekonstruksi dan pemulihan sekitar: Rp51,82 triliun.
Angka itu mencakup perbaikan rumah, infrastruktur, dan pemulihan layanan dasar—yang pada akhirnya “turun” ke biaya hidup warga: sewa naik, ongkos transport bertambah, harga bahan pokok di lokasi terdampak melonjak, dan pendapatan harian hilang.
Dampak sosial-ekonomi
Di lapangan, dampak sosial-ekonomi biasanya muncul dalam 5 bentuk hilangnya pendapatan harian pedagang kecil, buruh harian, petani, dan nelayan adalah kelompok yang paling cepat merasakan pukulannya. Hujan boleh berhenti, tapi modal yang hanyut tak kembali.
Lalu, sekolah terganggu karena ratusan satuan pendidikan rusak. Anak-anak bukan hanya kehilangan ruang belajar, tapi juga stabilitas emosi.
Kesehatan memburuk
Banjir juga memicu penyakit kulit, diare, DBD; karhutla meningkatkan ISPA; stres pascabencana memanjangkan penderitaan. Jutaan terdampak dan mengungsi sepanjang tahun.
Di tempat pengungsian, muncul masalah baru: privasi, sanitasi, keamanan kelompok rentan, dan potensi konflik kecil akibat kepadatan. Juga ada dampak lain seperti kerusakan aset dan hutang baru. Rumah rusak, peralatan kerja hilang, ternak mati, kebun rusak yang akhirnya banyak keluarga masuk fase utang untuk pulih.
Dalam laporan Reuters, juru bicara kantor Presiden menyatakan pelarangan/imbauan tidak menyalakan kembang api tahun baru adalah bentuk empati dan solidaritas nasional bagi korban bencana Sumatra.
Kepala BNPB Suharyanto juga menyebut kebutuhan dana pemulihan bisa meningkat seiring penghitungan kerusakan dan rencana relokasi dari pengungsian ke hunian sementara lalu permanen.
Suharyanto menjelaskan pencarian korban terhambat longsor, listrik padam, telekomunikasi putus, serta keterbatasan alat berat—hal yang berulang dalam bencana besar kita. AP memuat pernyataan Presiden yang menautkan bencana dengan tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan, serta perlunya memperkuat pendidikan kesadaran lingkungan.
Seorang ibu di pengungsian biasanya bercerita;
“Air datang cepat sekali. Kami cuma sempat ambil baju anak. Setelah itu, yang tersisa hanya lumpur, bau, dan capek yang tidak habis-habis.”
Di kalimat sederhana itu, ada kehilangan besar yakni rasa aman, rumah, dan rencana hidup. Dari rangkaian laporan BNPB dan pemberitaan, pemerintah sudah melakukan langkah cepat tanggap darurat dan pengerahan bantuan/logistik, termasuk pengiriman personel dan sarana udara pada bencana besar.
Koordinasi lintas kementerian dana status darurat di daerah, termasuk penyampaian imbauan kesiapsiagaan dan penanganan harian. Kalau 2025 memberi pelajaran, maka pelajaran itu terang: bencana tidak bisa hanya ditangani saat sudah terjadi.
Harus ada tata ruang tegas dan penegakan hukum yang tegas pula. Larangan keras membangun di sempadan sungai, lereng rawan longsor, dan zona banjir harus ditegakkan, disertai relokasi yang manusiawi dan transparan.
Normalisasi saluran air bukan sekadar pengerukan musiman, tapi desain ulang titik-titik rawan genangan dan bottleneck aliran air. Lalu BMKG/BNPB bisa mengeluarkan peringatan, tetapi yang menentukan adalah: apakah warga menerima, memahami, dan tahu tindakan apa dalam 10 menit pertama.
Selain itu, perlindungan ekosistem hutan, DAS, mangrove juga dilakukan. Karena banjir bandang dan longsor selalu punya jejak di hulu. Yang disebabkan tutupan lahan, lereng terbuka, dan daerah tangkapan air yang rusak.
Bencana menghantam yang miskin paling dulu. Skema perlindungan finansial membuat pemulihan tidak berubah menjadi krisis utang.
Masyarakat juga harus bersikap, yang paling menyelamatkan nyawa biasanya bukan heroik, tetapi disiplin. Peka tanda alam lokal seperti retakan tanah, bunyi gemuruh, air sungai tiba-tiba keruh dan naik cepat. Jaga lingkungan mikro seperti saluran air, sampah, talud sederhana, pohon penahan. Dan tidak menormalisasi tinggal di zona sangat rawan. Kalau peta risiko sudah jelas, keberanian bukan tinggal, tapi pindah.
Ke depan, harapan paling realistis bukan bebas bencana, karena Indonesia memang negeri dengan cincin api dan monsun. Tapi bagaimana berupaya korban jiwa turun drastis, karena peringatan dini dan evakuasi lebih cepat. Kerusakan tidak membesar, karena tata ruang dan infrastruktur lebih siap.
Juga pemulihan lebih adil, karena bantuan tepat sasaran dan rumah kembali berdiri tanpa menambah kemiskinan baru. Harapan itu bertumpu pada satu hal yang sering dilupakan: bencana bukan hanya soal alam. Ia juga soal pilihan manusia, bagaimana kita membangun, menjaga, dan mendidik diri di negeri yang indah sekaligus rapuh ini.
Leave a comment