PENARAYA – Pagi masih basah ketika layar ponsel di warung kopi kecil pinggir jalan menampilkan notifikasi pesanan masuk, pesanan masuk, pesanan masuk. Di belakang meja, seorang pemilik UMKM sebut saja Raka, menarik napas lega. Tahun lalu, ia sempat menahan stok karena rupiah goyah dan harga bahan baku naik. Kini, ia mencoba lagi, menambah mesin, menambah jam operasional, menambah keyakinan.
Di kalender Tionghoa, mulai 17 Februari 2026 kita memasuki Tahun Kuda Api (Fire Horse). Karakter Kuda identik dengan gerak cepat, keberanian mengambil risiko, kompetisi, dan mobilitas. Sementara elemen Api menambah energi, ambisi, dan panas. Peluang bisa meledak cepat, tapi salah kelola bisa membuat orang ikut terbakar.
Di ekonomi modern, “api” itu serupa arus modal global yang berubah cepat. Suku bunga yang bisa berbelok, perang tarif yang sewaktu-waktu membesar, dan teknologi yang mendorong produktivitas sekaligus merombak pekerjaan.
Lalu, di mana posisi Indonesia pada 2026? Gambaran besar, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 cenderung stabil di kisaran 5%. Beberapa proyeksi kunci yang bisa kita jadikan jangkar misalnya World Bank menilai ekonomi Indonesia tumbuh 5,0% pada 9 bulan pertama 2025, dan diproyeksikan bertahan sekitar level itu hingga 2026–2027. Pertumbuhan ditopang investasi dan net ekspor.
Sementara IMF menampilkan proyeksi pertumbuhan riil Indonesia 2026: 4,9%. Bank Indonesia (BI) menurut Reuters memprakirakan pertumbuhan 2026 di rentang 4,9%–5,7%, dan di kesempatan lain BI menyebut angka sekitar 5,33% untuk perencanaan.
Dari sisi target pemerintah, Reuters melaporkan pemerintah menargetkan 5,8%–6,3% dalam dokumen rencana kerja, namun realisasinya akan sangat bergantung pada eksekusi belanja, investasi, dan kondisi global. Kesimpulan yang paling mungkin 2026 adalah tahun resilien, bukan tahun “meledak”, tetapi juga tidak mudah jatuh dengan pertumbuhan sekitar ±5% itu.
Jika meliat perbandingan tiga tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung stabil. Dari rilis resmi BPS menyebut, tahun 2022: ekonomi tumbuh 5,31%, pada 2023 tumbuh 5,05% , tahun 2024 ekonomi tumbuh 5,03% dan tahun 2025 yang baru sja kita lalui, BPS mencatat tumbuh 5,04%.
Indonesia sudah beberapa tahun berada di koridor 5%. Maka pertanyaan 2026 sebenarnya apakah kita bisa naik kelas dari 5% menjadi lebih tinggi, atau justru melemah karena guncangan global dan daya beli?
Dalam narasi feng shui, Kuda Api sering dibaca sebagai tahun yang mempercepat keputusan,
memperbesar persaingan, menghadirkan peluang bagi yang adaptif, tapi juga rawan “overheat” (burnout, spekulasi, keputusan impulsif).
Jika diterjemahkan dalam ekonomi, maka sisi terangnya adalah bisnis yang lincah seperti digital, logistik, pariwisata, dan ayanan cenderung diuntungkan karena arus bergerak ini. Namun sisi bayangannya, sektor yang bergantung pada satu-dua pasar ekspor, atau sangat sensitif kurs dan bunga, lebih rentan jika ‘api’ global membesar. Seperti tarif, geopolitik, volatilitas komoditas dan sebagainya.
BI melalui berbagai pemberitaan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia 2026 sekitar 3%—ini menandakan global tidak sedang sprint, tapi juga bukan berhenti. Reuters juga menggambarkan dinamika manufaktur global. Eropa disebut masih lemah, sementara sebagian Asia membaik ditopang permintaan perangkat terkait AI. Ini penting karena rantai pasok Asia bisa ikut terdorong jika permintaan elektronik/komputasi naik.
Implikasi untuk Indonesia, peluang datang dari arus investasi dan permintaan kawasan, tapi risikonya tetap: pelemahan demand mitra dagang, perang tarif, dan volatilitas dolar.
Apakah 2026 akan meningkat?
Ada dua skenario praktis yakni naik vs turun yang bisa diperkirakan. Skenario A jika ‘naik kelas’. Prasyarat yang harus ada seperti belanja dan program pemerintah harus berjalan rapi. Investasi mengalir, rupiah relatif stabil, dan global tidak memburuk tajam.
Sektor yang berpotensi menguat bisa dari informasi dan komunikasi atau ekonomi digital. Kenaikan bisa 6%–9%ini bisa diisi oleh permintaan data, cloud, efisiensi AI, digitalisasi UMKM dan lainnya.
Kemudian sektor transportasi dan pergudangan atau logistik yang bisa naik 7%–10%. Sektor ini historis bisa melesat, menilik pada 2022 dan 2023 transport atau logistik tercatat tertinggi.
Lalu akomodasi dan makan-minum kebanyakan di sektor pariwisata naik 6%–9% serta konstruksi naik 5%–7% dari infrastruktur, perumahan, proyek publik danm lainnya. Sementara itu, perdagangan besar-eceran juga 5%–6,5% namun ini terjadi jika daya beli pulih.
Dampaknya, jika skenario naik terjadi maka lapangan kerja cenderung membaik di jasa-jasa kota dan rantai pasok. UMKM paling cepat merasakan arus transaksi naik duluan sebelum statistik. Sedang risiko ‘panas’ Kuda Api bisa terjadi karena kredit konsumtif berlebihan, spekulasi aset, dan biaya hidup di kota-kota besar.
Sementara jika skenario B atau melemah terjadi jika global memukul. Pemicu bisa shock eksternal yakni tarif, geopolitik, dolar menguat. Kemudian komoditas turun tajam, daya beli seret, atau pengetatan likuiditas; pertumbuhan condong ke 4,9%. Bahkan bisa di bawah rentang jika guncangan besar.
Sektor yang rentan melambat yakni pertambangan dan penggalian bisa minus 1% sampai +2% karena sektor ini sangat sensitif harga komoditas dan demand globalnya. Industri pengolahan berorientasi ekspor tertentu juga bisa turun 2%–4% karena tertekan order dan kompetisi.
Sedang real estate dan properti tertentu juga bisa turun 1%–3% ini kalau bunga/kredit mengetat dan daya beli melemah. Lalu perdagangan dan otomotif melemah 3%–5% kalau konsumsi tertahan.
Dampak jika skenario lemah ini terjadi maka tekanan terasa pada rupiah dan harga impor, juga margin bisnis yang bahan bakunya impor. PHK/penahanan rekrutmen biasanya muncul di sektor yang paling sensitif ekspor dan biaya modal.
Maka pemerintah akan diuji untuk menjaga keseimbangan ini dengan stimulus cukup, tapi fiskal tetap kredibel. World Bank sudah mengingatkan isu kualitas pekerjaan dan upah riil ini dalam periode 2018–2024.
Raka memulai dari satu gerobak minuman. Tahun 2024 ia bertahan karena biaya naik. Tahun 2025 ia belajar. Bukan cuma jualan, tapi mengelola data jam ramai, menu paling laku, biaya per gelas, promosi yang benar-benar menghasilkan.
Memasuki 2026, ia melakukan tiga hal yang terasa “feng shui” tapi juga sangat ekonomi, yakni merawat arus kas, mengubah produk jadi sistem. Ada paket langganan kantor dan kerja sama logistik lokal. Serta tidak hanya mengandalkan satu kanal penjualan.
Hasilnya omzetnya tidak selalu naik tajam, tapi stabil, an stabilitas sering kali lebih mahal dari sekadar viral. Pelaku ritel/UMKM sering menyatakan “Kami tidak butuh ekonomi meledak, kami butuh stabil. Kurs jangan liar, biaya logistik turun pelan-pelan, dan akses kredit jangan bikin pusing,”.
Sementara pengusaha manufaktur mengaytakan, ‘’Kalau global melemah, kami perlu kepastian regulasi dan percepatan perizinan. Tahun Kuda itu cepat, kalau birokrasi lambat, peluang keburu lewat.”
Sedang masyarakat atau karyawan menyampaikan: “Harapan kami sederhana, harga kebutuhan pokok terkendali, kerjaan ada, dan upah bisa ngejar biaya hidup.”
Nada harapannya sama yakni kecepatan dan ketertiban. Kuda Api memberi energi, tapi ekonomi butuh rem.
Leave a comment