Sabtu , 14 Februari 2026
Home Internasional Dari Bambali ke Dunia, Sadio Mané Bintang yang Masih Memijak Bumi
InternasionalOlahraga

Dari Bambali ke Dunia, Sadio Mané Bintang yang Masih Memijak Bumi

PENARAYA – Di sebuah desa kecil bernama Bambali, di wilayah Sédhiou, Senegal, lahir seorang anak yang akan tumbuh menjadi salah satu pesepakbola terbaik dunia. Dia adalah Sadio Mané  anak kampung yang kini menjadi simbol kerendahan hati, kerja keras, dan kemanusiaan sejati.

Sadio Mane bukan sekadar bintang di lapangan hijau. Dia menginspirasi. Pemain yang biasa memakai nomor punggung 10 di kostumnya itu adalah simbol, semangat dan pencapaian cita-cita berbekal kerja keras.

“Saya tidak pernah mimpi jadi terkenal. Saya hanya ingin bermain bola dan membantu desa saya,” ujar Sadio dalam wawancara dengan TeleDakar pada suatu kesempatan.

Sadio Mané lahir pada 10 April 1992, dalam keluarga religius yang sederhana. Ayahnya adalah seorang imam masjid. Keluarganya tidak mampu membeli sepatu bola, bahkan sering kesulitan mendapatkan makanan cukup.

Sadio kecil bermain bola dengan bola plastik atau kain, bertelanjang kaki, di jalanan berdebu. Ia sering kabur dari rumah hanya untuk bisa menonton pertandingan bola di kota terdekat.

“Sadio bukan anak nakal. Tapi dia keras kepala kalau soal bola,” kenang Amadou, teman masa kecilnya.

“Kami sering memukul bola dari kaus kaki bekas. Itu saja sudah membuatnya bahagia.”

Ayahnya wafat ketika Sadio masih kecil karena tidak bisa diantar ke rumah sakit. Sebab  tidak ada transportasi ke kota tempat rumah sakit berada. Sedang fasilitas kesehatan saat itu di Bambali belum memadai. Peristiwa itu mengubah cara pandangnya tentang hidup dan tanggung jawab.

“Saya berjanji akan membangun rumah sakit di desa saya. Tak ada anak lain yang boleh kehilangan orang tuanya karena kemiskinan,” ujar Sadio Mane.

Sadio tidak melanjutkan pendidikan formal tinggi. Namun, dia menempuh sekolah sepak boladi Académie Génération Foot di Dakar. Dari sini kelak lahir bintang besar itu. Tempat yang menjadi batu loncatan menuju karier profesionalnya.

Kisah Sadio Mané dimulai dari kemiskinan di desa kecil Senegal, di mana ia nekat melarikan diri dari rumah untuk mengejar mimpinya menjadi pesepak bola meskipun dilarang oleh ayahnya. Perjuangannya membuahkan hasil, ia menjadi bintang di klub-klub Eropa seperti Liverpool, dan kini dikenal sebagai pemain yang rendah hati dan dermawan, yang menggunakan kekayaannya untuk membantu pembangunan di kampung halamannya, termasuk rumah sakit, sekolah, dan fasilitas lainnya.

Ayah Mané berasal dari keluarga religius. Ayahnya yang seorang imam melarangnya bermain bola dan ingin Mané fokus pada studi agamanya. Ayahnya meninggal saat ia berusia tujuh tahun. Mané melarikan diri ke Dakar di usia 15 tahun dengan bantuan teman masa kecilnya untuk mengejar impiannya sebagai pesepak bola profesional.

Saat mengikuti seleksi tim lokal, ia tampil dengan sepatu yang sudah usang dan celana pendek yang tidak layak. Namun, bakatnya yang luar biasa membuatnya terpilih dan akhirnya kariernya berkembang hingga ke Eropa.

Karier Sadio cukup cepat melesat. Perjalanan kariernya membentang mulai dari Liga Austria ke Liga Champions. Pada 2011 dia direkrut oleh FC Metz sebuah klun asal Prancis. Kemudian pada 2012–2014 Mane bersinar di Red Bull Salzburg, Austria.

Perjalanan kariernya kemudian membawanya pada klub Liga Inggris 2014–2016 saat dia merumput bersama Southampton. Dan namanya mulai dikenal dunia. Kariernya makin memuncak. Aksinya di lapangan membuat banyak klub besar kepincut. Salah satunya adalah raksasa Premier League dengan Liverpool pada 2016–2022.

Di klub berjuluk The Red inilah Sadio Mane mengukir sejarah. Sebab, bukan saja dia berkontribusi mempersembahkan juaga Liga Inggris untuk Liverpool pada 2020, namun setahun sebelumnya dia berhasil mempersembahkan Juara Liga Champions pada 2019. Ketajamannya membuat Mane membubukan 120 lebih gol untuk Liverpool.

Pengembaraannya terus berlanjut, hingga pada 2022–2023 Mane pindah ke Bayern München, salah satu klub raksasa di Liga Jerman. Dan, sejak 2023 itu, dia melanjutkan perjalanan kariernya untuk merumput di klub Al Nassr. Di klub yang berkedudukan di Riyadh, IbuKota Arab Saud itu, Mane merumput bersama Cristiano Ronaldo.

Selain prestasinya yang cemerlang, buah dari kerja keras, ketekunan dan keyakinnya, sisi baik lain seorang Mane adalah sikap dermawannya. Mane tercatat menyumbangkan uangnya lebih dari USD 1 Juta. Uang itu digunakan untuk membangun sejumlah fasilitas umum bagi warga di tanah kelahirannya. Karena itu, Mané dikenal sebagai salah satu pesepakbola paling dermawan di dunia.

Aksi mane yang membangun kampung halamanya dengan menggunakan kekayaannya untuk membangun fasilitas di kampung halamannya seperti rumah sakit, sekolah, pom bensin, dan kantor pos memikat dunia.

Bahkan Mane juga memberikan bantuan finansial rutin per bulan kepada setiap keluarga di desanya, menyediakan internet 4G, dan menyumbangkan pakaian olahraga serta 300 kaus Liverpool agar warga desanya dapat mendukung timnya saat final Liga Champions 2018. Setahun kemudian Mane mempersembahkan tropi liga Champions untuk Liverpool.

Beberapa fasilitas umum yang sudah dia bangun dengan kocek pribadinya adalah membangun rumah sakit di Bambali dengan biaya tak kurang dari $700.000. kemudian Sekolah dasar dan menengah dengan biaya $300.000, membangun masjid berbiaya $250.000 serta memberikan bantuan uang tunai ke keluarga miskin di desa tak kurang $100.000. Selain itu, Mane juga membanun jaringan internet dan  BTS serta membangun stadion minidan lapangan sepak bola standar FIFA.

“Kami dulu hanya punya satu kelas dan guru. Sekarang, anak-anak bisa belajar di ruang ber-AC dengan komputer,” ujar Souleymane Diallo, kepala sekolah di Bambali.

Menjadi bintang, terkenal, dan dipuja seluruh dunia yak menjadikan Mane besar kepala, sombong dan eskluslif. Mane tetaplah Mane lelaki asal Bambali yang rendah hati.

“Dia tidak pernah berubah. Bahkan saat jadi bintang dunia, dia masih telepon saya dan tanya apakah saya sudah makan,’’ ujar ibunya, Satou Toure.

Hal yang sama disampaikan teman masa kecilnya, Modou Diop.

“Kami bangga. Tapi yang paling membanggakan adalah dia pulang dan membantu kami, bukan pergi dan lupa.”

Bahkan pejabat daerah pun mengacungkan jempol atas sikap warganya itu. Walikota Sédhiou memujinya.

“Sadio telah mengubah wajah Bambali. Kami bahkan menamai jalan utama dengan namanya: Avenue Sadio Mané.”

Di lapangan hijau pun, sikap Mane menuai penilaian positif. Sebut saja yang pernah disampaikan Jurgen Klopp, mantan Pelatih di Liverpool.

“Dia bukan hanya pemain hebat, tapi manusia luar biasa. Ia bermain untuk tim dan memberi makna pada kemenangan.”

Pun sama Mohamed Salah, rekan satu tim Mane.

“Di dalam dan luar lapangan, dia saudara. Kami bersaing sehat, tapi dia selalu yang pertama bantu orang.”

Buah dari kedermawanan Mane, Bambali  berubah dari desa sunyi menjadi kota harapan. Sebelumnya Bambali hanyalah desa kecil tanpa listrik, air bersih, atau jalan layak. Namun, kini ada rumah sakit modern, sekolah dengan fasilitas komputer, jalanan diaspal, masjid yang megah dan ada lapangan bola standar FIFA mini.

“Mané bukan sekadar pemain bola, dia pembangun peradaban kecil di tempat kami,” ujar imam desa Bambali.

Sadio Mané menunjukkan bahwa kesuksesan sejati bukan soal trofi, tapi seberapa banyak kamu bisa memberi kembali. Seberapa besar kita bisa bermanfaat untuk orang lain. Ia tetap hidup sederhana, menolak beli mobil mewah, menggunakan iPhone lama, dan hidup jauh dari glamour. Dalam wawancara dengan TeleDakar, ia pernah berkata:

“Untuk apa punya 10 Ferrari dan jam tangan mewah? Saya punya rumah, makanan, dan keluarga. Itu cukup.”

Sadio Mané adalah bukti bahwa asal usul bukan batasan, tapi pijakan. Ia membuktikan bahwa bintang sejati tak bersinar untuk dirinya sendiri, tapi menjadi cahaya bagi orang lain.

“Saya ingin dikenang bukan karena gol saya, tapi karena saya pernah membantu orang,”  ucap Sadio Mané

Dedikasi sosialnya itu membawa Mane menerima Socrates Award pada tahun 2022 atas aksi kemanusiaan dan kebaikannya di luar lapangan sepak bola.

 

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

InternasionalPolitik

Ketegangan AS–Iran, Bagaimana Dunia Menyikapi?

PENARAYA – Dua negara yang seolah menjadi musuh bebuyutan itu kembali bersitegang....

InternasionalNasional

Diplomasi London dan Arah Baru Indonesia: Membaca Makna Kunjungan Presiden Prabowo

PENARAYA – Langit London musim dingin masih kelabu ketika iring-iringan kendaraan kenegaraan...

InternasionalPolitik

Dunia di Persimpangan: Politik Global, Perang dan Diplomasi

Dunia di Ambang Ketidakpastian PENARAYA – Di dunia memang ada Persikatan Bangsa-Bangsa...

InternasionalNasionalSeni

Soundtoloyo, Ketika Dua Budaya Bernafas di Jalur yang Sama

PENARAYA – Malam pergantian tahun dari 2025 ke 2026 berjalan cepat. Detik...