Jumat , 13 Februari 2026
Home Nasional Cerita Duka dari Utara: Terjangan Air Bah yang Mengubah Wajah sumatera dan Ribuan Warga
Nasional

Cerita Duka dari Utara: Terjangan Air Bah yang Mengubah Wajah sumatera dan Ribuan Warga

PENARAYA – Tayangan video pendek dari salah satu platform media sosial mengiris hati. Dua lelaki kecil berlarian di sela-sela reruntuan bangunan yang beberapa  hari sebelumnya disapu air bah.

Lelaki kecil yang terlihat lebih besar berlari pada seonggok tembok yang masih tersisa di lokasi. Tembok selutut kakinya yang mungil itu bercat biru, memanjang dan masi menancap dalam tanah. Bocah berjongkok, lalu mengelus tembok itu. Dia mengenali, tembok itu adalah bagian rumah tempat tinggalnya.

Bangunannya entah ke mana, hanya tersisa tembok biru yang menempel pada pondasi itu. Bocah kecil satunya ikut mendekat, juga mengelus tembok itu. Bocah kakak beradik itu saling beradu pandang, namun tak berkata-kata. Keduanya tidak tahu harus berkata apa. Namun, di dalam hatinya pasti menyimpan tanya, ke mana rumah yang biasa mereka tinggali itu.

Video berlanjut, datang dua orang dewasa lelaki dan perempuan. Kemungkinan adalah orang tua kedua bocah itu. Saat tiba di bekas reruntuhan itu, keduanya nampak sedih. Lalu berpelukan dalam tangis. Pilu. Tentu, karena rumah tempat tinggal mereka lenyap, termasuk bendanya. Dan, ya, hanya tembok biru yang tersisa dan wisma yang menjadi tempat keluarga kecil itu menganyam kasih sayang dan merajut masa depan.

Penampakan duka keluarga kecil seolah menyuarakan bahwa begitulah dampak dari banjir yang melanda permukiman mereka. Ada ribuan bahkan jutaan kisah serupa di banyak lokasi yang tersapu air bah.

Ya, banjir Sumatera tidak hanya mengubah wajah salah satu pulau terbesar di Indonesia ini. Tapi, bencana itu akan mengubah hidup jutaan keluarga di sana. Banjir itu begitu dahsyat. Air datang seperti amukan yang tak terduga. Rumah-rumah tersapu, jalan-jalan putus, dan keluarga-keluarga yang semalam masih berkumpul kini mencari anggota yang hilang di antara timbunan lumpur.

Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam beberapa hari terakhir telah mengubah peta hidup jutaan orang. Tentu meninggalkan luka, kerusakan, dan pertanyaan besar: bagaimana memulihkan semuanya?

Data yang mengerikan

Berdasarkan data rekapitulasi terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 5 Desember 2025, korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor di ketiga provinsi tersebut mencapai 836 jiwa, sementara 509 orang masih dilaporkan hilang dan sekitar 2.700 orang mengalami luka-luka.

Korban meninggal terbanyak di Provinsi Aceh yakni 325 jiwa, Sumatera Utara 311 jiwa dan Sumareta Barat 200 jiwa. Sekitar 3,3 juta jiwa tercatat terdampak, dan ratusan ribu rumah serta fasilitas umum rusak. Data ini terus berubah seiring upaya evakuasi dan pendataan di lapangan.

Sibolga dan Tapanuli jadi Titik Terparah

Kota Sibolga dan wilayah Tapanuli menjadi salah satu fokus pencarian dan penyelamatan. Polres Sibolga melaporkan temuan jenazah secara berkala. Per 5 Desember sesuai data BNPB tercatat 50 orang meninggal dan beberapa warga masih dinyatakan hilang. Banyak permukiman di lereng dan sepanjang aliran sungai terkoyak oleh longsor yang menyeret rumah dan jembatan.

“Ada 18 titik lokasi yang terdampak langsung. Proses evakuasi dan pencarian masih terus berlangsung,” ujar AKP Suyatno, Humas Polres Sibolga, menjelaskan situasi operasional SAR yang sedang bekerja siang-malam di lokasi-lokasi terisolasi.

Petugas di lapangan yang dikoordinir BNPB terus melakukan evakuasi dan mengupayakan bantuan korban. Posko-posko pengungsian sudah dipenuhi warga yang sebagian besar kehilangan tempat tinggal dan harta bendanya. Bahkan, terpisah dari sanak keluarga.

Di salah satu posko pengungsian, wajah-wajah lelah menatap tumpukan bantuan yang belum cukup. Damai Mendrofa, salah seorang warga Kecamatan Pandan yang mengungsi bersama keluarganya, menggambarkan kondisi sehari-hari mereka:

“Bantuan pangan sudah mulai didistribusikan, tapi listrik padam dan air bersih sangat sulit kami harus cari ke perbukitan untuk mendapatkan air untuk anak-anak,’’ ujarnya.

Permintaan bantuan udara di lokasi terisolasi juga sering terdengar:

“Tolong kirim helikopter ke sini,” kata warga lainnya.

Sebab, lokasi belum memungkinkan diakses melalui jalur darat. Infrastruktur hancur total. Krisis kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, bahan bakar, serta fasilitas kesehatan menjadi tantangan utama untuk hari-hari mendatang.

Gelombang pengungsian menyebabkan dapur umum dan posko darurat bekerja keras, namun distribusi logistik masih terkendala akses jalan yang putus dan kondisi cuaca yang belum stabil.

Upaya Pemerintah dan Tantangan Logistik

BNPB dan pemerintah daerah telah mengerahkan berbagai moda transportasi untuk mengirim bantuan: truk-logistik lewat darat, kapal laut yang mengangkut beras, dan helikopter yang disiagakan di beberapa titik.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi BNPB, Abdul Muhari, menyebutkan bahwa distribusi bantuan dilakukan lewat jalur darat, laut, dan udara untuk menjangkau daerah-daerah terisolasi. Namun ia juga mengakui data korban dan kerusakan terus berubah mengikuti laporan dari lapangan.

Meski begitu, membuka akses menuju desa-desa yang terputus bukan pekerjaan mudah. Jembatan-jembatan rusak, jalan longsor, dan kondisi medan yang berbahaya memaksa tim SAR bekerja ekstra dan memprioritaskan evakuasi serta penyelamatan jiwa. Di beberapa titik, bantuan harus diprioritaskan melalui udara atau kapal kecil karena truk tidak bisa melewati jalan yang tertimbun.

Mengapa Bencana Ini Begitu Parah?

Para pakar menyebut hujan ekstrem yang berkepanjangan dan adanya sirkulasi tropis sebagai pemicu utama. BMKG dan sejumlah pengamat cuaca menyatakan bahwa pola cuaca yang diperparah oleh adanya bibit siklon tropis—yang di media disebut Siklon Tropis Senyar—meningkatkan intensitas hujan hingga memicu banjir bandang dan longsor di beberapa wilayah pesisir dan dataran tinggi Sumatera.

Selain faktor meteorologis, isu pengelolaan lahan dan penggundulan hutan juga disebut memperburuk aliran air dan stabilitas tanah.

Greenpeace dan organisasi lingkungan lainnya menyatakan bahwa bencana ini menjadi alarm tentang pengelolaan lingkungan dan perubahan iklim yang memperbesar frekuensi cuaca ekstrem, meminta kebijakan yang lebih tegas untuk pemulihan lingkungan jangka panjang.

Seorang relawan yang tergabung dalam tim SAR gabungan mengatakan, “Kami bekerja tanpa henti—mengevakuasi, mendata, membawa korban. Yang paling berat adalah mengakses desa-desa yang terisolasi. Kami butuh peralatan dan suplai yang lebih banyak,”

Pernyataan ini menggambarkan realitas medan yang sering jauh dari liputan. Masi ditambah dengan sulitnya mendapatkan kebutuhan dasar di sana.

Hanya, di antara reruntuhan itu masih ada momen-momen kecil harapan seorang ibu yang menerima paket makanan. Seorang anak yang tersenyum kembali di posko pengungsian, atau sukarelawan yang membantu menyisir kawasan untuk menemukan barang-barang berharga yang masih bisa diselamatkan.

Namun di balik itu semua, kehilangan terasa sangat nyata bagi keluarga-keluarga yang belum menemukan anggota mereka.

“Kami masih mencari adik saya. Tanpa bantuan alat pendeteksi dan anjing pelacak, harapan kecil itu sulit,” ujar keluarga korban di Sibolga.

Dalam jangka pendek, prioritas adalah evakuasi, penyediaan logistik, air bersih, dan layanan kesehatan, serta pendataan korban secara akurat. Dalam jangka menengah dan panjang, tantangan besar menanti: rekonstruksi rumah, infrastruktur yang tahan bencana, perbaikan sistem peringatan dini, serta kebijakan pengelolaan lingkungan yang lebih baik untuk mengurangi risiko berulang.

Banjir dan longsor di Sumatera kali ini bukan hanya soal angka. Ini tentang nyawa, rumah, mata pencaharian, dan rasa aman yang runtuh dalam sekejap. Data resmi menunjukkan skala kehilangan yang besar, namun di balik statistik itu ada ratusan sampai ribuan cerita pribadi yang membutuhkan perhatian berkepanjangan.

Di tengah duka, bantuan yang cepat, koordinasi yang baik, dan komitmen perbaikan lingkungan adalah kunci agar tragedi serupa tidak terulang.

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Nasional

MBG di Meja Makan Sekolah: Antara Harapan Gizi dan Rasa Cemas Orang Tua

PENARAYA – Pukul 09.30 pagi, di sebuah Puskesmas di Jawa Barat, belasan...

Nasional

MBG : Janji Gizi Generasi Emas, Anggaran Jumbo dan Ancaman Keracunan

PENARAYA – sejak awal, program Makan Bergizi Gratis (MBG) memunculkan kegaduhan yang...

BisnisEkonomiNasional

Mundur Massal di Pucuk Pasar Modal Indonesia, Drama Apa Ini?

PENARAYA – Kecuali Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengundurkan...

InternasionalNasional

Diplomasi London dan Arah Baru Indonesia: Membaca Makna Kunjungan Presiden Prabowo

PENARAYA – Langit London musim dingin masih kelabu ketika iring-iringan kendaraan kenegaraan...