Di tengah hamparan lahan latihan Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Nusa Tenggara Timur, barisan siswa Bintara Polri terlihat sibuk menanam jagung dan merawat kebun sayur. Bukan sekadar kegiatan tambahan, aktivitas itu kini menjadi bagian resmi dari proses belajar mereka. “Kami ingin mendidik polisi yang paham pangan, bukan hanya paham hukum,” ujar AKBP Samuel S. Simbolon, S.H., M.H., sosok di balik proyek perubahan ini, Kamis (06/11/2025).
Simbolon menggagas ide yang unik sekaligus relevan, yaitu mengintegrasikan ketahanan pangan ke dalam kurikulum pendidikan kepolisian. Melalui proyek bertajuk “Strategi Pengembangan Model Pembelajaran Kepolisian Berbasis Ketahanan Pangan”, ia berupaya membentuk calon Bintara yang tidak hanya tangguh dalam menjalankan tugas keamanan, tetapi juga memiliki kepedulian sosial terhadap masalah nyata di masyarakat.
“Ketahanan pangan itu bukan hanya urusan kementerian pertanian saja sebenarnya. Ketika masyarakat kekurangan pangan, potensi konflik meningkat. Di situlah Polri harus hadir,” kata Simbolon. Ia melihat, di daerah seperti Nusa Tenggara Timur, di mana produksi padi dan jagung meningkat namun kerentanan sosial tetap tinggi, pendidikan kepolisian perlu menanamkan kepekaan terhadap isu pangan sejak dini.
Melalui proyek ini, SPN Polda NTT kini memiliki model pembelajaran kontekstual, dimana kurikulum yang menggabungkan pelajaran kepolisian dengan muatan lokal ketahanan pangan. Para pendidik mendapat pelatihan khusus untuk mengaitkan isu sosial ekonomi dengan peran kepolisian, sementara para siswa belajar langsung di kebun edukatif yang menjadi laboratorium lapangan.
Simbolon menjelaskan, langkah ini bukan sekadar simbolik. “Kami ingin Bintara Polri tumbuh menjadi personel yang adaptif dan humanis. Mereka harus bisa jadi penggerak masyarakat, bukan hanya penegak hukum,” ujarnya. Dengan cara ini, Polri berperan ganda, yaitu menjaga keamanan sekaligus mendorong kemandirian pangan di tingkat lokal.
Kepala SPN Polda NTT Kombes Dr. Ferry Harahap,S.I.K,M.Si sangat mengapresiasi gagasan tersebut. Ia menilai inovasi ini mampu menjembatani kesenjangan antara pendidikan formal dan realitas lapangan. “Model ini membuat siswa memahami akar persoalan sosial. Mereka jadi lebih siap bertugas di daerah yang rentan, karena sudah terlatih berpikir solutif,” katanya.
Proyek ini juga membuka ruang kolaborasi lintas sektor. SPN bekerja sama dengan dinas pertanian dan ketahanan pangan setempat untuk mengembangkan kebun edukatif berkelanjutan serta menyusun modul pembelajaran kontekstual yang bisa direplikasi ke SPN-SPN lain di Indonesia.
Dalam jangka panjang, Simbolon berharap model ini menjadi standar nasional pendidikan kepolisian berbasis ketahanan pangan, sejalan dengan semangat Polri Presisi dan nilai Tribrata Catur Prasetya.
“Polri tidak hanya harus bisa menjaga keamanan, tapi juga menjamin kehidupan masyarakat tetap stabil. Karena kalau dapur rakyat aman, negara pun aman,” tutupnya.
Leave a comment