Jumat , 13 Februari 2026
Home Nasional Gelang Emas di Jalanan: Perjalanan Basral Graito Hutomo dari Bolt Skate Sederhana ke Ajang SEA Games 2025
NasionalOlahraga

Gelang Emas di Jalanan: Perjalanan Basral Graito Hutomo dari Bolt Skate Sederhana ke Ajang SEA Games 2025

PENARAYA – Olahraga mempersatukan. Olahraga adalah sportita dan semangat. Siapa yang terbaik layak diberi tepuk tangan, sorak sorai dukungan dan pelukan hangat. Dan, itulah yan yang dibuktikan Basral Graito Hutomo. Kemenangannya di ajang SEA Games 2025 di Bangkok, Thailand membuktikan itu.

Kemenangan Basral yang merengkuh medali emas tak hanya disambut oleh official Indonesia, negara yang dibel Basral dalam pesta akbar olahraga di Asia Tenggara itu, tapi official pun menyambut gembira. Tak sekedar berteriak dan berjingkrak, bahkan salah satu official Malaysia memeluk Basral. Sebuah momen langka, karena bukan rahasia lagi jii Indonesia dan Malaysia seolah musuh bebuyutan di ajang olahraga apapun eventnya.

Karena itu, kemenangan itu membuat Indonesia punya satu momen yang tak akan mudah dilupakan. Basral Graito Hutomo yang menorehkan skor 166,67 poin hingga mengunci medali emas untuk nomor skateboard street putra, sorak penonton pecah bukan hanya karena tekniknya, tapi karena siapa Basral bagaimana dia menapaki jalan hidup sebelumnya.

Basral lahir di Tangerang, Banten pada 22 Januari 2007. Basral tak langsung menjejakkan kaki di arena profesional. Sejak kecil, ia memang sudah tertarik pada skateboard yang sering terlihat di jalanan kompleksnya. Namun di rumah, kehidupannya yang jauh dari gemerlap. Dia dan keluarganya hidup sederhana. Sang ayahnya hanyalh pekerja serabutan, sedang ibunya membantu dengan usaha kecil-kecilan.

“Dulu dia sering pulang dengan lutut penuh luka, tapi dia bilang itu bagian dari proses belajar,” kenang seorang tetangga yang sekaligus kenal Basral sejak bocah.

Basral mulai dengan papan murah hasil tabungannya sendiri, berlatih di jalan lingkungan dan parkiran kosong. Alat pelindung layaknya pemain skateboard seperti pelindung lutut atau helm nyaris tak pernah dia pakai. Bukan karena tak mau pakai, namun dia meman tidak memiliki. Ia hanya memanfaatkan keberanian dan tekat.

Orang tuanya awalnya cemas, tapi melihat semangat anaknya yang gigih, mereka pun mendukung sebisa mungkin. Semangat itu membawa Basral lebih jauh. Ia mengikuti komunitas skate crew lokal, bertukar trik, belajar ollie, kickflip, dan berbagai trik dasar lain dari senior–senior yang lebih berpengalaman.

Di situlah ia mengasah mental kompetitifnya. Bukan hanya soal keseimbangan di papan, tetapi juga tentang mental menghadapi rasa takut jatuh berkali-kali.

“Saya masih ingat ketika dia pulang sambil bilang ‘kak, tadi gue hampir bisa landing trik itu.’ Tapi besoknya dia sudah latihan lagi,” ujar seorang teman dekat sekaligus rekan komunitas skate skating di Tangerang, yang ikut menuntun Basral dalam masa-masa awal. Keuletan seperti itu jadi fondasi mentalnya yang kini membawa prestasi di level SEA Games.

Momen krusial itu datang di SAT Extreme Sports Park, Bangkok pada 14 Desember 2025. Di babak final skateboard street putra, Basral yang awalnya berada di posisi keempat berhasil unggul lewat percobaan terakhirnya, sebuah kemenangan dramatis di bawah tekanan besar. Ia menjalankan trik yang berani dan clean, menempatkannya di puncak skor dan membawa pulang emas untuk Indonesia.

Setelah pengumuman hasil, Basral tak bisa menahan air mata. Bendera Merah Putih berkibar, lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang. Sungguh, tak ada momen paling membahagian, mengharukan dan paling emosional bagi seorang patriot di ajang apapun, selain berkumandangnya lagu kebangsaan dan berkibar tingginya bendera negara.

Maka rekan-rekannya bersorak, suasana riuh dan gemuruh tepuk tangan menjadi bukti bahwa kerja keras dan kesabaran selama bertahun-tahun akhirnya terbayar. Jumlah medali emasnya juga turut memperkuat posisi kontingen Indonesia di klasemen total medali.

Dalam wawancara setelah emas diraih, ibu Basral berbicara dengan suara bergetar, “Dulu kami sering khawatir dia jatuh dan cedera. Tapi sekarang, melihat dia berdiri di podium dan membawa harum nama bangsa, kami bangga tak terkira.”

Sementara sang ayah menambahkan, “Kami selalu berharap yang terbaik untuk anak kami. Dia bukan hanya juara olahraga, dia juara dalam hal ketekunan.”

Orang tua Basral menceritakan betapa sejak kecil ia tidak mudah menyerah, bahkan saat latihan berat dan waktu bagiannya habis hanya untuk mengasah kemampuan skateboard sambil tetap sekolah. Mereka mengaku bangga karena Basral tak melupakan pendidikan, sekaligus mengejar mimpi di dunia olahraga ekstrim yang penuh risiko.

Kini setelah emas, Basral telah menyatakan bahwa ini bukan puncak, tetapi awal dari babak baru perjuangan.

“Target saya berikutnya adalah Asian Games, lalu suatu hari tampil di Olimpiade,” katanya penuh tekad.

Ia juga berencana membuka skate park dan program pelatihan gratis bagi anak-anak di Tangerang agar generasi berikutnya punya akses yang lebih baik dari yang ia miliki dulu.

Kisah Basral adalah pengingat bahwa di balik setiap medali emas tak hanya ada teknik dan strategi. Ada pula keringat di jalanan kota kecil, doa orang tua di rumah, dan keteguhan hati yang tak pernah padam meski berulang kali jatuh.

Dengan segala keterbatasan yang pernah membatasi langkahnya, Basral memilih untuk terus melangkah ke depan. Papan di bawah kaki, mimpi di mata, dan Indonesia di hatinya.

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Nasional

MBG di Meja Makan Sekolah: Antara Harapan Gizi dan Rasa Cemas Orang Tua

PENARAYA – Pukul 09.30 pagi, di sebuah Puskesmas di Jawa Barat, belasan...

Nasional

MBG : Janji Gizi Generasi Emas, Anggaran Jumbo dan Ancaman Keracunan

PENARAYA – sejak awal, program Makan Bergizi Gratis (MBG) memunculkan kegaduhan yang...

BisnisEkonomiNasional

Mundur Massal di Pucuk Pasar Modal Indonesia, Drama Apa Ini?

PENARAYA – Kecuali Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengundurkan...

InternasionalNasional

Diplomasi London dan Arah Baru Indonesia: Membaca Makna Kunjungan Presiden Prabowo

PENARAYA – Langit London musim dingin masih kelabu ketika iring-iringan kendaraan kenegaraan...