PENARAYA – Ya, papan skateboard itu pernah retak. Roda pernah aus. Lutut pernah berdarah. Tapi mimpi Basral Graito tak pernah patah.
Ketika wasit mengangkat tangan dan layar skor memastikan namanya berada di posisi teratas final skateboard street SEA Games 2025, Basral menunduk. Tangannya gemetar. Bukan karena lelah, melainkan karena ia tahu perjalanan panjang itu akhirnya menemukan jawabannya.
Bagi sang ibu, kemenangan Basral bukan kejutan, melainkan hasil dari kesabaran panjang.
“Sejak kecil dia jarang minta apa-apa. Kalau jatuh, dia bangun sendiri. Kalau gagal, dia latihan lagi. Kami cuma bisa mendoakan,” ujar ibunya dengan mata berkaca-kaca saat ditemui selepas laga final.
Ayahnya mengingat masa-masa paling berat, ketika mereka harus memilih antara membeli perlengkapan sekolah atau memperbaiki papan skate anaknya.
“Kami sering bilang, ‘Nak, sabar ya, nanti.’ Tapi dia tidak pernah marah. Dia bilang, ‘Tidak apa-apa, Pak, aku bisa pinjam dulu.’ Itu yang membuat kami yakin, anak ini punya mental besar.”
Basral bukan produk fasilitas mewah. Ia besar dari jalanan, trotoar, dan parkiran kosong. Di sanalah ia mengulang trik ratusan kali, ollie, kickflip, rail slide, hingga tubuhnya hafal rasa sakit dan keseimbangan.
Seorang teman sekaligus rekan komunitas skate yang tumbuh bersamanya mengenang:
“Kami semua jatuh, tapi Basral yang paling cepat bangkit. Saat yang lain pulang, dia masih latihan. Dia bukan yang paling jago sejak awal, tapi paling konsisten.”
Leopold Anggi, pelatih Timnas Skateboard nomor street, menyatakan bahwa potensi terbesar Indonesia ada di nomor street putra. “Di street, potensi paling tinggi, street putra. Kita kuat semuanya,” katanya.
Tentang Basral, Pelatih menyatakan: “Dia Kuat di Kepala, Bukan Hanya di Kaki”
Pelatih nasional skateboard Indonesia yang menangani Basral di pelatnas menilai kekuatan utama atlet muda ini bukan semata teknik, melainkan mental bertanding.
“Basral itu tenang. Saat atlet lain tertekan, dia justru fokus. Di final SEA Games 2025, dia tampil seperti latihan biasa—padahal tekanannya luar biasa,” ujar sang pelatih.
Menurutnya, Basral adalah contoh atlet modern: disiplin, mau mendengar, dan tidak cepat puas.
“Dia selalu bertanya, ‘Apa yang bisa saya perbaiki?’ Itu ciri atlet besar.”
Final skateboard street putra SEA Games 2025 adalah ujian paling berat. Basral sempat tertinggal. Kesempatan tinggal satu run terakhir. Risiko besar harus diambil.
“Saya ingat pesan orang tua saya: lakukan yang terbaik, jangan takut jatuh,” kata Basral usai pertandingan.
Ia pun meluncur. Trik berjalan bersih. Landing sempurna. Skor naik. Emas pun berpindah ke tangan Indonesia.
Pihak federasi skateboard Indonesia menyebut emas Basral sebagai bukti bahwa pembinaan atlet dari komunitas akar rumput membuahkan hasil.
“Basral lahir dari jalanan, dibesarkan oleh komunitas, dan kini mengharumkan Indonesia. Ini model pembinaan yang harus diperkuat,” kata perwakilan federasi.
Setelah podium dan lagu kebangsaan, Basral tak langsung bicara soal popularitas. Ia bicara soal anak-anak yang bernasib seperti dirinya dulu.
“Saya ingin nanti ada skate park yang gratis dan aman. Supaya anak-anak tidak perlu latihan di jalan seperti saya dulu,” ujarnya.
Basral Graito bukan hanya juara SEA Games 2025. Ia adalah cerita tentang anak biasa yang berani bermimpi luar biasa, tentang keluarga sederhana yang tak pernah berhenti berdoa, dan tentang jalanan yang melahirkan juara.
Di papan skateboard itu, Basral tak hanya meluncur membawa dirinya sendiri—ia membawa harapan banyak anak Indonesia yang percaya bahwa keterbatasan bukan akhir, melainkan awal dari perjuangan.
Leave a comment